Nasional, HunterXNews
Di balik megahnya revolusi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang kini menguasai dunia, ada satu nama dari tanah air yang jejak kejeniusannya menjadi fondasi utama industri deep-tech global. Banyak orang mengenal ChatGPT, Gemini, atau deretan chip super canggih buatan Nvidia. Namun, sedikit yang tahu bahwa tanpa inovasi spektakuler dari seorang insinyur kelahiran Jakarta, ekosistem AI raksasa tersebut tak akan bisa berjalan.
Dari Bongkar Radio Bekas hingga Mengguncang Silicon Valley
Kisah inspiratif ini bermula dari Dr. Sehat Sutarja, pria kelahiran Jakarta tahun 1961. Rasa ingin tahunya yang amat besar terhadap dunia elektronika sudah terlihat sejak ia berusia 12 tahun, di mana ia gemar membongkar-pasang radio dan TV bekas. Demi memahami manual teks komponen elektronik yang kala itu belum ada versi bahasa Indonesianya, Sehat kecil bertekad mempelajari bahasa Inggris secara otodidak. Pada usia 13 tahun, ia berhasil memperoleh sertifikasi teknisi radio profesional di Jakarta.
Passion mendalam tersebut mengantarkannya menuntut ilmu di Iowa State University hingga meraih gelar PhD dari UC Berkeley. Pada tahun 1995, bersama istrinya Widay (Weili Dai) dan adiknya Pantas Sutarja, ia memberanikan diri mendirikan Marvell Technology dari meja makan rumah mereka. Meski sempat diragukan oleh para pemain besar di Silicon Valley, Sehat membuktikan kejeniusannya lewat terobosan chip two-in-one yang merevolusi efisiensi komputer dunia, hingga ia dijuluki sebagai Master of Silicon.
Alasan di Balik Nama Besar yang Jarang Tersorot Media
Mengapa nama Dr. Sehat Sutarja terbilang jarang terdengar di pemberitaan nasional? Alasan utamanya adalah karena Marvell bergerak di ranah industri B2B (business-to-business) dan deep-tech infrastructure. Ia tidak memproduksi aplikasi konsumen yang memiliki logo menarik di layar ponsel, melainkan fokus membangun fondasi keras yang menjadi tulang punggung teknologi modern.
“Jalan Tol” Utama bagi Ekosistem AI Nvidia
Peran Marvell kian krusial ketika gelombang kecerdasan buatan meledak. Untuk menjalankan pemrosesan skala raksasa, Nvidia membutuhkan puluhan ribu keping chip GPU yang bekerja secara serentak dalam satu pusat data (data center).
Ibaratnya, Nvidia membuat supercar tercepat di dunia, namun supercar tersebut tidak akan bisa melaju tanpa ketersediaan jalan tol yang mulus. Di sinilah Marvell hadir menyediakan teknologi interconnect dan networking kecepatan tinggi yang menjadi “jalan tol” tempat data berseliweran tanpa hambatan. Tak heran bila pimpinan Nvidia, Jensen Huang, melihat Marvell sebagai komponen tak tergantikan dan memberikan apresiasi tinggi terhadap peran vital perusahaan ini.
Marvell menguasai teknologi interconnect/networking yang menjadi fondasi utama agar puluhan ribu chip GPU buatan Nvidia dapat berkomunikasi tanpa bottleneck
Meskipun GPU buatan Nvidia dikenal sebagai “otak” di balik kecerdasan buatan (AI) modern, cip tersebut tidak bisa bekerja sendirian. Untuk menjalankan sistem AI raksasa, ribuan GPU harus dihubungkan bersama dalam satu data center. Di sinilah peran penting Marvell Technology. Perusahaan yang didirikan oleh insinyur asal Indonesia, Dr. Sehat Sutarja, ini menguasai teknologi jaringan dan konektivitas super cepat yang menjadi “jalan tol” bagi lalu lintas data. Tanpa koneksi buatan Marvell, pemrosesan data pada GPU Nvidia akan melambat dan mengalami hambatan parah.
Keterkaitan yang sangat krusial ini mendorong Nvidia untuk menjalin kemitraan strategis dan menginvestasikan dana fantastis sebesar $2 miliar (sekitar Rp36 triliun) ke Marvell. Melalui kolaborasi ini, Marvell mengintegrasikan teknologi jaringannya langsung ke dalam sistem NVIDIA NVLink Fusion™ untuk membangun infrastruktur AI masa depan. Kerja sama ini membuktikan bahwa Marvell bukan sekadar pemasok biasa, melainkan mitra fondasi utama yang menjaga ekosistem AI dunia tetap terhubung dan berjalan lancar.
Pelajaran Bisnis Berharga untuk Masa Depan
Meski Dr. Sehat Sutarja telah berpulang pada September 2024 lalu, warisan pemikirannya memberikan ikhtiar bisnis yang amat berharga: di tengah demam emas (gold rush), jangan hanya berebut menggali emas, tetapi jadilah penyedia sekop dan alatnya.




