Jakarta, HunterXNews — Tingginya penetrasi internet di Indonesia dinilai perlu diimbangi dengan penguatan literasi digital dan literasi kesehatan masyarakat. Hal ini penting untuk menghadapi penyebaran informasi palsu atau hoaks, khususnya terkait kesehatan.
Rizky menyebut, berdasarkan Survei Internet Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2026, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 81,72 persen. Namun, tingginya akses internet belum otomatis diikuti kemampuan masyarakat dalam memilah informasi yang benar dan terpercaya.
Perwakilan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Aqueelah Johnson, mengatakan hoaks merupakan persoalan global yang dihadapi banyak negara. Khusus hoaks kesehatan, dampaknya tidak hanya menimbulkan keresahan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat.
Menurutnya, Pemerintah Amerika Serikat melalui proyek Global Health Security yang dikelola Department of State menyambut baik kolaborasi dalam penanganan hoaks kesehatan di Indonesia.
“Peluncuran Playbook hari ini membekali jejaring komunikator kesehatan Indonesia dengan sumber yang andal dan terpercaya. Amerika Serikat senang dapat bekerja sama dengan Indonesia dalam isu penting ini,” ujar Aqueelah Johnson, Pelaksana Tugas Wakil Duta Besar AS di Jakarta.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas komunikator kesehatan dalam menyampaikan informasi yang akurat sekaligus membantu masyarakat menghadapi maraknya disinformasi kesehatan di ruang digital.(kj1)